Hakekat Anak Bagi Kedua Orang Tuanya (Rangkuman Podcast)

Anak adalah anugrah terindah sekaligus amanah yang Allah bagi orang tuanya. Mereka  harus dididik dan dibimbing agar menjadi anak shaleh shalihah yang menjadi dambaan umat.

Agar kita mampu mendidik mereka dengan baik dan benar, serta tidak banyak melakukan kesalahan, sebelum kita membahas lebih lanjut bagaimana mendidik anak yang baik,  marilah kita fahami dulu kedudukan/hakekat anak bagi kita orang tuanya, yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan sunah Rasulullah SAW, agar kita semua dapat menempatkan anak-anak kita sesuai dengan kedudukannya, dan kitapun dapat menempatkan diri sesuai porsi yang seharusnya kita jalankan.

Dalam Al Qur`an dan sunah, disebutkan beberapa ayat yang berkaitan dengan hakekat anak bagi orang tuanya, yaitu :

  1. Anak sebagai amanah

   Allah SWT berfirman :“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”( QS. 4 : 9).

   ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan( Q.S. 66:6 )”.

   Anak-anak, bukan hanya sebuah hasil konsekuensi hubungan biologis antara dua orang manusia lawan jenis, bukan pula hanya berfungsi sebagai hiasan dan hiburan bagi kehidupan kita, namun ia dikaruniakan Allah SWT adalah sebagai amanah bagi kita. Ia diberikan kepada kita untuk kita didik menjadi anak-anak yang kuat, memiliki aqidah yang kokoh, istiqomah memegang teguh keyakinan akan kebesaran dan keagungan Allah, mengamalkan din dalam kehidupan kesehariannya, serta bangkit berdiri menjadi penyeru-penyeru da’wah ilallah penerus risalah Nabi, dibumi manapun  tempat ia berpijak, dan dalam situasi dan kondisi apapun jua.

Setiap orang tua harus memiliki kesadaran seratus persen akan amanah Allah ini, sehingga mereka tak akan menyia-nyiakannya. Tak menganggap remeh seorang anakpun, bagaimanapun kondisi anak tsb. Membekali diri dengan ketaqwaan kepada Allah SWT, meneladani Rasulullah dalam melakukan pendidikan, dan tak pernah puas mencari wawasan dan pengetahuan mendidik anak, karena jaman terus berkembang dan malaju, agar tak ketinggalan jaman, sehingga mampu membimbing dan memberi tauladan kepada anak-anaknya dengan langkah dan tindakan yang tepat.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya kepada kita, sehingga kita mampu menunaikan amanah sebaik-baiknya, dan dapat mempertanggung jawabkan penunaian amanah suci ini dihadapan-Nya kelak, dalam keadaan yang lapang dan diridhoi-Nya. Amiin.

  • Anak sebagai fitnah/cobaan

Allah SWT berfirman :“ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan disisi Allohlah pahala yang besar”. ( QS. 64 : 15 ).

“ Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allohlah pahala yang besar”.(Q.S. 8 : 28 ).

Dalam sebuah hadist, juga disebutkan :”Anak menyebabkan orang tuanya kikir dan penakut ”( H.R. Ibnu Babawih dan Ibnu Asakir).

Anak, bisa menjadi fitnah/cobaan/ujian bagi orang tuanya. Sejak seorang ibu mulai hamil, ujian kesabaran telah dimulai. Rasa mual, ingin muntah, badan lemas, tidak mau makan, adalah kondisi yang benar-benar membuat seorang ibu merasa tidak nyaman. Bila tidak diikuti dengan kesabaran dan kesadaran akan ketentuan Alloh SWT pada dirinya, bisa saja seorang ibu menjadi sangat rewel dan mudah marah. Ketika kehamilan semakin hari semakin besar, gerak seorang ibu menjadi semakin terbatas. Kalau tadinya bisa berjalan cepat, dan bergerak lincah kesana-kemari, saat itu tak bisa lagi.

Ketika bayi telah lahir, tugas seorang ibu bukannya selesai, tetapi justru sebaliknya. Menyusui, mengasuh, dan menjaga anak menjadi tugas berikutnya.  Belum lagi bila anak sedang dalam kondisi tidak nyaman atau sakit, anak akan menjadi rewel dan sulit diajak kompromi, maka pekerjaan-pekerjaan yang lain menjadi berantakan.

Begitu anak beranjak remaja dan dewasa, hubungan antara anak dan orang tua juga tak selalu mulus seperti yang direncanakan dan diharapkan. Ada saja hal yang seringkali dapat menyebabkan rasa sedih dan luka hati.

Inilah diantara bentuk-bentuk ujian/cobaan yang dihadapi oleh para orang tua bersama anak-anaknya. Karenanya, memiliki anak harus siap menanggung segala ujian dan cobaan yang mungkin akan menyertai setiap langkah kehidupan kita. Kita harus mempersiapkan diri dan anak-anak kita dengan sebaik-baiknya, hingga ujian dan cobaan itu dapat  kita lalui dengan baik, insya Allah. Amiin.

  • Anak Bisa Menjadi Musuh

Allah SWT berfirman :” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu, ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( Q.S. 64 : 14 ).

Kadang kala, dalam interaksi sehari-hari antara orang tua dan anak, timbul kesalah fahaman. Masing-masing memiliki pendapat sendiri, dan tidak mudah disatukan. Hal tersebut bisa menyebabkan sebuah permusuhan diantara mereka. Kondisi yang demikian, bila dibiarkan berlarut-larut dan tidak diselesaikan dengan segera, bisa saja menimbulkan kebencian yang besar, dan kemudian melahirkan tindakan diluar batas kewajaran. Anak dan orang tua bermusuhan, tidak saling bertegur sapa dan saling benci. Terkikislah rasa kasih sayang dan hormat diantara mereka.

Dalam  berita-berita kriminal yang kita saksikan, tidak sedikit kasus seorang anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri karena keinginannya tidak dipenuhi, atau sebaliknya orang tua berlaku kasar dan diluar batas kewajaran karena merasa anakn hanyalah beban baginya.

Ada anak yang tidak mau berkunjung bertahun-tahun lamanya kerumah orang tuanya, walaupun rumah mereka berdekatan, hanya karena sebab sepele. Bahkan, ada  anak yang mengusir orang tuanya dari rumah mereka sendiri, ketika si anak telah berkeluarga dan ingin tinggal nyaman bersama istri dan anaknya, karena tak ingin terganggu oleh urusan dengan orang tua. Masya Alloh, na’udzubillahi min dzaalik.

Sebuah pelajaran berharga juga dikisahkan dalam Al Qur’an. Adalah kisah Nabi Nuh as, yang anaknya tidak taat kepadanya dan lebih memilih hidup bersama-sama dengan kaum yang sesat, walaupun bapaknya adalah seorang Nabi utusan Alloh. Ia melawan perintah bapaknya disaat yang sangat sulit sekalipun.

Allah SWT berfirman:“ Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil : ” Hai anakku, naiklah (kekapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. Anaknya menjawab : ” Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata : ” Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Alloh selain (Alloh) saja Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.(Q.S. Huud : 42-43).

Kisah-kisah di atas, adalah pelajaran dan peringatan bagi kita semua para orang tua. Karenanya, Alloh SWT Yang Maha Tahu berpesan, agar kita berhati-hati dalam berinteraksi dengan anak-anak kita. Mendidik mereka dengan pendidikan yang benar, memberikan kepada mereka makanan yang halal dan thoyyib, agar mereka menjadi anak-anak yang sholeh sholihah, dan tidak menjadi musuh-musuh kita. Kemudian menjadikan maaf dan menahan amarah, sebagai sebuah kunci pengendalian diri, disaat terjadi perselisihan antara orang tua dan anak, sehingga setiap perselisihan dapat diselesaikan dengan hati lapang  tanpa kebencian dan permusuhan. Rasa kasih sayang dan cinta orang tua kepada anak tetap terbangun, dan anak juga tetap hormat dan segan dengan orang tuanya. Maka kehidupan keluargapun akan menjadi indah dan bermartabat.

  • Anak sebagai aset masa depan orang tuanya.

    Anak-anak sholeh dan sholihah yang dititipkan Allah SWT kepada kita, akan menjadi aset masa depan hidup kita. Hidup kita yang abadi disisi Allah SWT, bukan sekedar aset masa depan dalam artian materialistis, dalam kehidupan dunia yang sementara, namun ia adalah aset masa depan kehidupan kita di negeri akherat yang hakiki…nanti. Di dalam kehidupan yang tidak ada lagi yang bisa kita mintai pertolongan, untuk mensuplai keperluan-keperluan kita, untuk menutupi kekurang-kekurangan kita.

     Saat kita telah kembali kepada Allah SWT, menjalani hidup abadi di akherat nanti, anak-anak sholeh sholihah kitalah, yang akan senantiasa mengantarkan do’a dan permohonan ampunan untuk kita, bukan harta dan jabatan kita. Bukan ketampanan dan kewibawaan kita. Bukan jabatan dan kedudukan kita di dunia.

     Inilah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :” Apabila meninggal anak Adam, maka terputuslah segala amalnya kecuali yang tiga : shodaqoh jariyah,anak yg sholeh yg selalu mendo`akannya, dan ilmu yang bermanfaat”.( H.R. Bukhori Muslim).

     Semoga kita para orang tua, mampu mengemban amanah suci ini, dalam bimbingan dan kasih sayang Allah SWT kepada kita. Sehingga kita mampu mengantarkan anak-anak kita, meraih kedudukan anak-anak shaleh dan shalihah, menjadi aset yang sangat berharga bagi kedua orang tuanya, dan dapat menjadi penerus risalah Allah di muka bumi, disepanjang kehidupan mereka. Amiin.

Oleh : Ustadzah Dr. Hj. Ari Aji Astuti, M.Pd

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Get free tips and resources right in your inbox, along with 10,000+ others